Juni 24, 2011

Maulid ala kampung saya

Teringat ketika saya masih duduk di bangku Sekolah dasar kelas 6,,
Saya dan teman2 saya yang sebaya maupun yang lebh tua dari saya memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan rasa sangat antusias…
Saat itu saya dan kawan-kawan dari dayah Al-Aziziyah yang di komandani oleh tengku syekh berlatih “meulike”untuk menyambut dtangnya bulan maulid…
Semua santri yang mau ikut,, diwajibkan latihan agar kompak dan bagus saat “meulike” nanti…
Meulike adalah kegiatan bersalawat atau menyairkan pantun islami bernada nasihat  yang disertai dengan irama tersendiri yang khas yang terdiri sari 10 s/d 20 orang santri yang duduk saling berhadapan dengan bersila kemudian seorang syekh yang melantunkan syair “likee”. Saat syair di lantukan,,para anggota likee yaitu santri menggoyangkan kepala mereka ke kiri dan kekanan dengan serentak dan lentur,,,dan akan ditampilkan di meunasah-meunasah dimana dirayakannya maulid nabi
Para santri melakukan latihan setiap malam,,,dengans angat semangat,,,biasanaya latihan digelar setelah salat isya berjamaah,,,lamanya latihan itu sekitar 2 minggu atau 3 minggu…pastinya temopat latihan sendiri di atas “bale” dimana biasanya kami mengajdi al-kitab.
Bale adalah sejenis panggung yang berfungsi untuk mengaji para santri dan santriwati. Masing-masing bale di komandani oleh satu orang tengku.
Jadi kisah serunya adalah, ketika kami selesai latihan, kami tidir di bale itu juga engan beralaskan tikar dan berbantalkan kain sarung. Ada yang tidor awal ada yang tidur larut malam. Biasanya santri yang tidur larut malam memiliki rencana jahil, yaitu mengerjai santri yang tidor lebih awal dengan cara menakut-nakuti “hantu”. Biasanya santri yang senior yang selalu melakukan ini.
Pertama mereka membedaki muka mereka sampai putih seperti mayat atau pocong, setelah itu menutup kepala dengan kain putih setelah itu mendekati santri yang tertidur pulas dan membangunkannya dengan mendekatkan mukanya dengan muka santri yang tertidur dan membangunkannya perlahan sambil memanggil namanya dengan suara hantu. Tak aneh, ketika santri terbangun and membuka mata sentak terkejut dan berteriak “burong….burong,,,,burong,,,,,”. Dan santri yang lain pun menertawainya.
Burong itu artinya hantu atau “ghost” . bahasa aceh adalah burong.
Oke,,,,itu cerita masa latihan. Lain lagi cerita ketika tampil di menasah-meunasah. Tujuan kami bukan untuk meulike tapi untuk menghabiskan makanan yang desediakan oleh pihak meunasah,,emmang anak2 susah kalo liat makanan.
Bahkan kalau pulang kerumah membaw apulang segerobak nasi molid kerumah, kadi orang rumah tak perlu masak lagi.
Itulah serunya masa maulid di kampung saya………

2 komentar:

  1. hehe. memang anak2 suka jahil.
    aku jadi dapat ide untuk ospek (buat jerit malam), hehe.
    nice share.
    keep blogging, bro!

    BalasHapus
  2. yeah,,,,,anak2 tetap anak2 bro,,,,,hidup anak2

    BalasHapus