Dulu, masyarakat kita yang notabene memiliki budaya cenderung ke timur, sangatlah tabu membincangkan masalah lelaki lemah gemulai (LALAI) yang konotasinya selalu negatif, menyalahi fitrah dan aib bagi masyarakat serta memalukan dan tidak dapat diterima sama sekali dalam masyarakat manapun di Indonesia. Mereka menyenangi sesama jenis dan mengahalalkan perkawinan sejenis yang menurut mereka itu adalah hak asasi mereka sebagai manusia. Kehadiran orang jadi-jadian ini pun sangat tidak diinginkan sehingga memaksa mereka untuk mengasingkan diri jauh dari masyarakat.
