Dulu, masyarakat kita yang notabene memiliki budaya cenderung ke timur, sangatlah tabu membincangkan masalah lelaki lemah gemulai (LALAI) yang konotasinya selalu negatif, menyalahi fitrah dan aib bagi masyarakat serta memalukan dan tidak dapat diterima sama sekali dalam masyarakat manapun di Indonesia. Mereka menyenangi sesama jenis dan mengahalalkan perkawinan sejenis yang menurut mereka itu adalah hak asasi mereka sebagai manusia. Kehadiran orang jadi-jadian ini pun sangat tidak diinginkan sehingga memaksa mereka untuk mengasingkan diri jauh dari masyarakat.
LALAI, sebuah singkatan yang sengaja dibuat untuk memperhalus istilah bagi kaum terintimidasi, terisolasi dan gila ini, seakan tak akan pernah mampu mengambil hati masyarakat untuk dapat menerima mereka menjadi bagian dari sosial masyarakat apalagi menganggap keberadaan atau eksistensi mereka didalamnya. Keberadaan mereka memang terhapus sama sekali dalam silisah ketamadunan manusia, Kita hanya mengenal lelaki, perempuan dan khunsa( orang yang berkelamin ganda, bukan LALAI yang sengaja menyalahi fitrah mereka). Namun, seiring dengan berkembangnya zaman, sering orang menyebut zaman edan(gila), keberadaan kaum LALAI ini mulai diakui keberadaannya dan eksistensinya. Bahkan sekarang orang memeberi nama mereka dengan nama "MAHO" yang artinya "Manusia Homo". Manusia homo ini telah mampu menyihir kita semua untuk megakui keberadaan mereka. Fakta yang sangat jelas terlihat adalah, diperjuangkannya hak perkawinan sejenis kaum gay di Amerika yang kemudian berhujung pada pengesahan legalitas perkawina sejenis. Ini menandakan bahwa mereka mulai muncul ke permukaan dan mengindikasikan keberadaan kaum ini akan semakin bertambah dan melebar ke seluruh dunia. Amerika sebagai negara liberal yang telah menyetujui undang-undang ini tentu akan dijadikan sebagai model bagi negara lain yang menganut sistim yang sama ataupun berbeda. Ancaman ini bukan isapan jempol belaka, Sebuah ancaman nyata juga sedang terjadi dalam lingkuagan kita sendiri. Tanpa kita sadari acara-acara televisi yang menjadi konsumsi kita sehar-sehari sering menayangkan kampanye terlarang kaum "LALAI" atau "GAY" secara terang-terangan. Manusia Homo dianggap menarik dan sering mengundang tawa jika membahasnya atau memeragakannya walaupun hanya sebagai humor belaka. Contohnya kata-kata yang populer dikalangan remaja sekarang adalah " EMBER" atau "YUK CIN" atau "CUCOK". Meskipun tayangan terlarang itu mengundang tawa dan kegelian tetapi sesungguhnya ini adalah sebuah permulaan menuju "PEMBIASAAN" kaum gay secara nasional, dengan selalu ditampilkannya kampanye hitam terlarang ini maka kita akan menjadi terbiasa dan tidak lagi merasa tabu untuk membicarakannya atau malah mengakui keberadaannya dengan alasan sudah terbiasa dan tidak janggal lagi. Tak dapat di elak lagi, Aceh pun terinfeksi racun haram berbisa ini. Al-hasil, banyak kita melihat dikampus, ditempat kerjaan, diwarung kopi, di tempat rekereasi kaum LALAI ini muncul tanpa ada rasa risih sedikitpun dengan tingkah laku aneh mereka yang membuat kita geli melihatnya. Walaupun mereka tidak mendeklarasikan yang bahwa mereka adalah penyuka sesama jenis, namun kita dapat menebak dengan hanya melihat tingkah laku mereka. Rumor yang merebak bahkan lebih dari sekedar heboh,dimana pria macho berperut "six pack" yang sering latihan di tempat fitness pun dikatakan menjadi bagian dari kaum "GAY" atau MAHO ini. Dibalik dari semua ini, apakah kita sadar, bahwa ada sebuah daerah di Romawi yaitu Pompeii yang merupakan simbol dari degradasi akhlak manusia dibumi hanguskan oleh ALLAH SWT dengan meletusnya gunung Vesuvius dikarenakan tempat ini adalah pusat kaum MAHO dan LESBI. Hal yang sama juga pernah terjadi kepada kaum Nab Luth A.S. Ini bermakna, bukanlah sebuah hal yang mustahil bagi ALLAH SWT untuk mengulang sejarah bagi mereka yang durhaka. Maka marilah kita berdoa agar kita terlindung dari kaum yang hina ini. Amin ya Rabb.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar