Juni 13, 2011

CHAUVISME YANG MERUSAK DAN MERACUNI SERTA MELUMPUHKAN PEMIKIRAN RAKYAT ACEH


Assalamualaikum sahabat…

Apa kabar semuanya, semoga siapapun yang membaca artikel ini dalam keadaan sehat wal’afiat dan selalu dalam lindungan Allah SWT. 

Tema untuk artikel kali ini adalah “ CHAUVISME YANG MERUSAK DAN MERACUNI SERTA MELUMPUHKAN PEMIKIRAN RAKYAT ACEH”

Bagi sahabat yang memang berasal dari aceh, pasti tahu bagaimana cerita kejayaan raja Iskandar Muda dan kerajaan Samudra Pasai yang menjadi pusat perkembangan islam di abadnya. Sebagai seorang pemuda yang berdarah Aceh, saya sejak kecil sudah mendengar cerita kejayaan Aceh sebagai kerajaan Islam yang paling maju di seluruh dunia, dan kesuksesannya ini sudah tak diragukan lagi kebenarannya. Ketika menjelang tidur, anak-anak pada jaman saya terkadang diceritakan tentang kejayaan kerajaan Aceh pada masa itu oleh neneknya atau kakeknya sebagai pelaku sejarah. Mereka menceritakan bagaiman kerja keras orang – orang aceh terdahulu dalam memperjuangkan kemerdekaan dari belanda, bagaimana kejayaan raja iskandar muda , dan bagaimana peran mereka dalm melawan colonial belanda. Sejak kecil saya, saya juga yakin semua teman-teman yang sebaya saya, disuguhi cerita semacam ini untuk membuat anak-anak tahu bagaimana sejarah dahulunya, dan membangkitkan semangat kita untuk mengembalikan kejayaan Aceh seperti sebeumnya. 

“ hana gata tepeu kiban dikamoe jameun, meulawan kaphe beulanda. Para ulama, masyarakat dan banmandum ureung aceh beudeh sama-sama meulawan kaphe beulanda.” “ I droe keuh nyak, bek laloe ngen donya, beu ingat keu seujarah jaemun dikamoe kiban me perjuangkan naggroe Aceh nyo, sehingga nanggroe aceh nyo jaya sampoe an jinoe hat di thei le kaphe”. Kira-kira seprti inlah penggalan cerita yang sering terdengar dari orang-orang tua terdahulu yang sedang semangatnya menceritakan kisah sejarah. Memang cerita semcam ini dapat membangkitkan semangat kita untuk membangun Aceh kearah yang lebih maju dan berkembang seperti dahulu . Namun tidakkah anda tahu sebenarnya cerita nenek atau kakek kita dahulu telah membawa pemikiran kita terlamun oleh kejayaan tempoh dulu ?. Coba kita lihat faktanya, dikarenakan cerita lamunan masa dulu , sekarang orang Aceh selalu mengandalkan masa kejayaan Iskandar muda sebagai tameng kejayaan yang dianggap masih berlangsung hingga sekarang, padahal Aceh sekarang ini sedang dalam degradasi moral, aqidah dan peradaban yang sekarat. 

Sebagai contoh, Kalau kita mengahimpiri orang yang sedang santai duduk di warung kopi, ( warung kopi tradisional) dan kita memancing membicarakan tentang Aceh, maka yang menjadi topic pembahasan selalu saja kejayaan Iskandar muda yang telah berlalu berate-ratus tahun lamanya, dan Rakyat aceh sekarang terlena dengan kejayaan yang sudah jauh tertinggal itu. Sekarang yang menjadi pertanyaan, mengapa orang aceh menjadi terlena? Apakah hanya karena lenaan cerita kejayaan masa lampau ataukah ada sebab yang lain. 

Saya melihat, ada satu sifat jelek yang dimiliki oleh bangsa saya ini ,yaitu sifat chauvisme. Sifat chauvisme ini adalah sifat dimana sebuah bangsa selalu meningginkan bangsannya sendiri dengan mengemukakan kejayaan bangsanya dan merendahkan bangsa orang lain. Perlu bukti???

Boleh kita lihat dimana saja, biasanya orang aceh itu pasti mengucapkan” menye hana kei pane na” ketika usaha atau jasa yang diberikannya berguna atau berhasil. Atau dengan cara yang lain juga terlihat sifat chauvisme ini, misalnya coba saja lihat di warung, kedai, atau rumah anda sendiri, ketika ada kesalahan orang lain(bangsa lain) maka langsung dikritik dan dicela tanpa melihat kesalahan sendiri , sifat ini lebih kepada sifat angkuh dan sombong , contoh nya “ pane na jih nyan, pane na jeut ih, “ atau “ pane na jawa nyan, awak lhieh punggong gop” atau “ pane na batak nyan awak pajoh sie bui” atau “ hai ka tuoh keudroe si batak karo nyan, meu bulee lidah”. Apa maksud dari serangkaian kata – kata ini???kalau bukan bermaksud merendahkan bangsa lain dan meninggikan bangsa sendiri secara tidak langsung.
Seharusnya Aceh sebagai “serambi mekkah” yang islamnya kuat , ilmu ketuhanannya kuat, memahami tiap arti ucapan yang diucapkannya, sebab ucapan yang selalu di ulang ulang akan menjadi kebiasaan dan akan menjadi budaya berbahasa. Sebagai akibatnya, orang Aceh sangat sensi dengan orang jawa atau pun batak karena alas an yang tidak jelas, karena ucapan tadi “pane na bataknyan” atau “ pane na jawa nyan” sehingga membuat Aceh menganggap rendah bangsa lain tanpa alasan. 

Lain lagi halnya dengan orang aceh yang gila dengan kejayaan aceh tempo dulu. Mereka selalu berpendapat.” Aceh jemun nah jaya that, jameun Aceh nyoe hana sama ngen jawa(Indonesia, bagi orang Aceh selain bangsa Aceh maka dianggap jawa)” jameun jawa mengemis lakei aceh gabong” “jameun nah aceh nyo kerajaan” . selalu menggunakan kata “jameun” yang artinya “jaman dahulu kala”. Apalah arti masa lalu diceritaakan dan dibanggakan pada masa sekarang, sementara bangsa Amerika sudah sampai ke bulan, Jepang sudah mengembangkan Nuklir, abu dhabi sudah membangun tower terpanjang dunia, bangsa Aceh masih saja mundur teratur dengan membanggakan masa lalunya. Artinya ditengah kemajuan dunia yang semakin pesat. Bangsa Aceh masih saja dengan masa lalu. Gob ka di ek pesawat dijak u haji, tanyo manteng ek jalo. Mungkin ini yang dapat menggambarkan suasana sekarang.

Kalau kata band armada sih, “mau di bawa kemana” bangsa aceh ini. Kalau sejarah dijadikan pedoman masa depan. Kapan majunya…..
Inilah yang saya maksudkan “ CHAUVISME YANG MERUSAK DAN MERACUNI SERTA MELUMPUHKAN PEMIKIRAN RAKYAT ACEH”.
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi anda yang menace dan menjadi bahan renungan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar